Sumbawa, kota yang penuh dengan kenangan. Ada satu nama yang sampai sekarang tetap di ingatan. Meski aku pura-pura biasa tapi tetap saja bayanganmu seliweran dipikiranku. Tak terasa ya semua berlalu begitu cepat, dulu hampir setiap hari kita chatan bahkan sampai larut malam. Sekarang, mau ngechat sekedar bertanya kabar saja aku canggung.
Tahukah kamu bagaimana rasanya didiamkan oleh seseorang yang sebelumnya sangat hangat menyapamu. Bagaimana rasanya diabaikan oleh dia yang sebelumnya selalu menanyakan kabarmu.
Bagaimana rasanya ?
Iya, tidak usah dijawab.
Aku tidak sedang menghindari siapapun, pun aku tidak sedang menjauhi siapapun. Aku hanya senang menyendiri, mengingat semua yang terjadi dan aku berusaha menerima tanpa menyesali atau pun menyalahkan diri.
Seleksi alam sedang berlangsung.
Entah apa yang berubah dari kita, atau hanya aku yang berusaha tahu diri. Perasaan kehilangan ini tak pernah kuingin. Berat sudah pasti. Tapi, aku tahu hidup harus terus berjalan. Terima kasih sudah pernah hadir, menjadi manusia menyenangkan, meski kadang menyebalkan tapi selalu kurindukan. Pernah ku langitkan namamu dalam doa, namun takdir memberikan jawaban yang begitu indah.
Akupun ikhlas tentang kita yang tak pernah menjadi apa-apa, karena aku percaya ada yang maha mengatur dan tidak akan pernah salah. Kecewa, tentu saja. Rasa kecewa mengajarkan kita bahwa kehidupan itu mudah berubah dan berpindah. Untuk aku dan kita, berharaplah sewajarnya, mencintailah sewajarnya dan bahagialah sewajarnya. Hari esok masih dalam tanya, entah keadaan kita akan tetap sama atau sebaliknya.

Comments
Post a Comment